Qiraat al-Kutub

Laman ini didedikasikan untuk mahasiswa/i semester VI Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) Fak. Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, tahun 2010/2011. Semoga bermanfaat.

تعريف الإعراب
الإعراب في اللغة : مصدر قياسي من قولك : أعربت إعراباً . والمراد به : الإظهار والإبانة.
تقول : أعربت عمّا في نفسي . أي أظهرته وأبنته . وفي الحديث الشريف : ( الثيب يُعرب عنها لسانها والبكر تستأمر في نفسها ) والمراد : يظهره ويبين عنها لسانها .
والمادة الأصلية ( ع ر ب ) زيدت الهمزة فصار الفعل مركباً غير بسيط بها والعين والراء والباء أصول ثلاثة ، ومن المعاني لها : الإبانة والإفصاح وهو المعنى المراد هنا .
والإعراب في اصطلاح النحاة : هو تغيير يلحق آخر الكلمة حقيقة أو حكماً بسبب اختلاف العوامل الداخلة عليها من عامل يقتضي الرفع إلى آخر يقتضي النصب إلى ثالث يقتضي الجر إلى رابع يقتضي الجزم … وهكذا .
وعرف النحو في اصطلاح العلماء بأنه : قواعد يعرف بها أواخر الكلمات العربية التي حلت بتركيب بعضها مع بعض من إعراب وبناء وما يتبعها .
فائدته :
تتلخص فائدته في :
1. الاقتدار على النطق العربي الفصيح .
2. فهم كتاب الله العزيز وفهم كلام العرب ومعرفة تراثهم الثقافي .

كيفية الإعراب وخطواته :
إذا أردنا أن نعرب كلمةً من الكلمات ، فإن هذه الكلمة إما أن تكون اسماً أو فعلاً أو حرفاً وعلينا أن ندرك أنه لا يمكن إعراب أي كلمة من هذه الكلمات إعراباً صحيحاً سليماً إلا من خلال جملة مفيدة . إذ أن فهم معنى الجملة هو الطريق السليم للإعراب الصحيح .
ومن الأمور التي يجب أن يحترز منها المعرب أن يعرب شيئاً طالباً لشيء. ويهمل النظر في ذلك المطلوب ، كأن يعرب فعلاً متعدياً ولا يتطلب فاعله ومفعوله أو مفعولاته أو مبتدأ ولا يتعرض لخبره ، أو فعلاً ناسخاً ولا يتعرض لاسمه وخبره ، أو حرفاً ناسخاً ولا يتعرض لاسمه وخبره . بل ربما مر به فأعربه بما لا يستحق العامل المؤثر فيه .

خطوات الإعراب مختصرة

خطوات الإعراب

أولاً : يجب عليك كما قلت لك سابقاً تحديد نوع الكلمة أهي

ثانياً : يجب عليك تحديد نوع الكلمة من حيث الإعراب والبناء في الأسماء والأفعال والحروف ، وإليك الرسم التوضيحي الآتي لمعرفة ذلك

ثالثاً : يجب عليك معرفة علامات الإعراب والبناء ، وإليك في هذه المرحلة علامات الإعراب ( الأصلية والفرعية ) وعلامات البناء :
أ ) علامات الإعراب في الأسماء تنقسم إلى قسمين :
1 . علامات إعراب أصلية وهي : التي تُعرب بالحركات سواء أكانت ظاهرة أم مقدرة ، فعلامة الرفع ( الضمة ) وعلامة النصب ( الفتحة ) وعلامة الجر ( الكسرة ) . والأسماء التي تعرب بالحركات الأصلية هي : الاسم المفرد ، جمع التكسير ، جمع المؤنث السالم ، الاسم الممنوع من الصرف

علامات إعراب فرعية وهي : التي تُعرب بالحروف وهي ( الألف ، والواو ، والياء ) والأسماء التي تعرب بالحروف هي ( المثنى ، وجمع المذكر السالم ، والأسماء الخمسة )

ب ) علامات الإعراب في الأفعال :
ليس هناك إلا فعلاً واحداً معرباً وهو


نماذج للاعراب

Link Ringkasan TABEL I’RAB

http://forum.moe.gov.om/~moeoman/vb/showthread.php?t=90976

URGENSI BAHASA ARAB

Arti penting bahasa Arab sebagai ilmu alat bagi ummat Islam untuk memperdalam diennya merupakan suatu kebutuhan primer yang tak boleh ditawar-tawar. Maka setiap muslim terlebih aktivis dakwah sudah semestinya memulai untuk mempelajari bahasa Arab dan berkutat dengan kitab-kitab kuning utamanya kitab-kitab turast (induk) dalam mendulang lautan ulumul syar’i.

Suatu ironi, apabila jamak kaum muslimin hari ini lebih intens dengan bahasa-bahasa asing lainnya dan mengabaikan lughatul jannah (bahasa surga) dengan seribu satu alasan. Lebih mengenaskan lagi, apabila aktivis dakwah terus terbelenggu dengan buku-buku terjemahan padahal tantangan dakwah mengharuskan para aktivis untuk meningkatkan kualitas SDMnya.

Allah telah menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an karena bahasa Arab adalah bahasa yang terbaik yang pernah ada sebagaimana firman Allah:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.”

Ibnu katsir berkata ketika menafsirkan surat Yusuf ayat 2 di atas: “Yang demikian itu (bahwa Al -Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab) karena bahasa Arab adalah bahasa yang paling fasih, jelas, luas, dan maknanya lebih mengena lagi cocok untuk jiwa manusia. Oleh karena itu kitab yang paling mulia (yaitu Al-Qur’an) diturunkan kepada rosul yang paling mulia (yaitu: Rosulullah), dengan bahasa yang termulia (yaitu Bahasa Arab), melalui perantara malaikat yang paling mulia (yaitu malaikat Jibril), ditambah kitab inipun diturunkan pada dataran yang paling mulia diatas muka bumi (yaitu tanah Arab), serta awal turunnya pun pada bulan yang paling mulia (yaitu Romadhan), sehingga Al-Qur an menjadi sempurna dari segala sisi.” (Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir surat Yusuf).

Syaikhul Islam dalam Iqtidho Shirotil Mustaqim Berkata: “Sesungguhnya ketika Allah menurunkan kitab-Nya dan menjadikan Rasul-Nya sebagai penyampai risalah (Al-Kitab) dan Al-Hikmah (As-sunnah), serta menjadikan generasi awal agama ini berkomunikasi dengan bahasa Arab, maka tidak ada jalan lain dalam memahami dan mengetahui ajaran Islam kecuali dengan bahasa Arab. Oleh karena itu memahami bahasa Arab merupakan bagian dari agama. Keterbiasaan berkomunikasi dengan bahasa Arab mempermudah kaum muslimin memahami agama Allah dan menegakkan syi’ar-syi’ar agama ini, serta memudahkan dalam mencontoh generasi awal dari kaum Muhajirin dan Anshar dalam keseluruhan perkara mereka.”

Memilukan nian musibah yang telah menimpa ummat ini, hanya segelintir dari mereka yang mau mempelajari bahasa Arab dengan tamak. Mayoritas terbenam dalam tujuan dunia yang fana, sehingga enggan dan ogah-ogahan mempelajari bahasa Arab yang konon tidak ada hasil duniawi yang bisa diharapkan sekalipun fasih cas-cis-cus berbahasa Arab. Kontras dengan bahasa Inggris, sususah apapun dengan biaya berapapun dan bagaimanapun bahasa inggris harus dalam genggaman. Tak heran kursus-kursus bahasa Inggris menjamur dimana-mana, beda nasibnya dengan kursus bahasa Arab…???

Pengaruh Bahasa Arab Dalam Kehidupan
Syaikhul Islam berkata: “Dan ketahuilah…!!! membiasakan berbahasa Arab sangat berpengaruh terhadap akal, akhlak dan agama. Juga sangat berpengaruh dalam usaha mencontoh mereka dan memberi dampak positif terhadap akal, agama dan tingkah laku.” (Iqtidho Shirotil Mustaqim).
Mereka yang pandai bahasa Arab cenderung senang membaca kitab-kitab para ulama yang berbahasa Arab dan tentu senang juga membaca dan menghafal Al-Qur’an serta hadits-hadits Rasulullah. Sehingga hal ini bisa memperbagus akhlak dan agamanya serta lebih lurus fikrahnya, sebab betapa banyak buku-buku terjemahan yang melencengkan maksud si penulis sehingga menyesatkan khalayak.

Imam Az-Zahroh berkata: “Sesungguhnya kebanyakan manusia salah dalam mentakwilkan Al-Qur’an karena sedikitnya ilmu Bahasa Arab mereka”.

Imam Ayub As-Sakhtiyani berkata: “Kebanyakan penduduk Iraq menjadi zindiq karena bodohnya mereka dengan bahasa Arab”.

Penduduk Iraq pada sekitar tahun 73 H, memiliki pemahaman islam yang menyimpang yang dipimpin oleh Azariqoh sehingga dengan kesesatan mereka ini terjadi fitnah luar biasa di negeri Islam pada saat itu.

Hukum Mempelajari Bahasa Arab
Syaikhul Islam Berkata: “Sesungguhnya bahasa Arab itu sendiri bagian dari agama dan hukum mempelajarinya adalah wajib, karena memahami Al-Kitab dan As-Sunnah itu wajib dan keduanya tidaklah bisa difahami kecuali dengan memahami bahasa Arab. Hal ini sesuai dengan kaidah:Apa yang tidak sempurna suatu kewajiban kecuali dengannya maka ia juga hukumnya wajib.”

Umar bin Khattab menulis kepada Abu Musa Al-Asy’ari (yang isinya) “…Pelajarilah As-Sunnah, pelajarilah bahasa Arab dan I’roblah Al-Qur’an karena Al-Qur’an itu berbahasa Arab.” Umar juga berkata: “Pelajarilah bahasa Arab sesungguhnya ia termasuk bagian dari agama kalian”.

Source: http://alghaits.wordpress.com/urgensi-bahasa-arab/

Tips-Tips Cepat Baca Kitab Gundul

Siapa yang ingin mengunduh mutiara, mesti harus menyelam. Untuk bisa membaca kitab gundul/kuning dengan cepat mestilah dengan usaha yang maksimal pula. Memang susah-susah mudah. Mengapa ana katakan susah-susah mudah? Sebab semuanya kembali pada:

  1. Kehendak-Nya yang memudahkan kita untuk cepat paham atau kehendak-Nya yang membuat kita sulit paham.
  2. kemudian metode atau cara kita mempelajarinya.

Para thalibul ilmi yang duduk dibangku pendidikan formal saja banyak yang kesulitan , apalagi yang diluar itu (walau tidak semua bahkan ada yang lebih Allah mudahkan). Memang bahasa Arab itu sangat komplek dan lengkap gramatikalnya apalagi jika kita mempelajarinya loncat-loncat tidak sistematis. Karena kesempurnaannya maka Allah menjadikan bahasa ini sebagai bahasa pengantar Al-Qur’an dan di dalamnya Allah telah memudahkan bagi siapa saja yang ingin mempelajarinya. Allah berfirman:

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (Al-Qamar: 17)

Aslinya, bahasa Arab itu sulit tapi Allah mudahkan, Allah telah mudahkan bagi kita dan Allah mudahkan bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Bandingkan dengan bahasa Inggris, apalagi Jepang dan Mandarin yang lebih sulit dan tidak ada jaminan dari Allah untuk memudahkannya tapi ramai peminatnya.

Tips-tips ini semoga bermanfaat bagi antum yang belajar lewat jalur non formal seperti ana, tapi insya Allah juga bermanfaat bagi antum yang duduk di jalur formal.

1) Selalu luruskan niat.

Ini yang paling penting dan terpenting, sebab jika pondasinya tidak kokoh maka dikawatirkan akan merusak dunia dan agama sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Tidaklah dua ekor serigala kelaparan di giring kepada satu domba lebih merusak daripada kerakusan seseorang pada agama untuk tujuan kemuliaan dirinya (dimata manusia)” (HR. Tirmidzi).

Maka belajarlah hanya untuk mencari ridha Allah.

2) Cita-cita dan tekad baja.

Kemauan seseorang ada beberapa tingkatan, yaitu:

  • Khathir: yaitu kilasan kemauan, belum ada cita-cita yang kuat
  • Taraddud: yaitu kemauan yang penuh keragu-raguaan antara ya atau tidak
  • Ham: yaitu cita-cita yang kuat tapi indikasinya belum terlihat jelas
  • ‘Azzam: yaitu cita-cita disertai tekad baja yang indikasinya bisa terlihat pada tindakan

Harus memiliki Ham dulu, mantapkan dalam hati dengan doa yang kuat, semoga Allah karuniakan fadhilah ini kepada kita dan mudahkan. Kemudian jadikan ham tersebut menjadi ‘azzam. Beli buku-buku, kursus, kuliah atau ke pesantren merupakan indikasi dari ‘azzamnya.

Jika belajarnya hanya dengan khathir atau taradud saja, ya… tidak akan bisa.

3) Istiqamah

Ketidakistiqamahan biasanya dari beberapa sebab;

  • Dari diri sendiri, karena malas, putus semangat, salah niat dsb
  • Dari metode atau muallimnya. Jika memang dari hal ini maka sebaiknya komunikasikan dengan muallim (pengajar).

4) Baca sebanyak-banyaknya referensi

Semakin banyak buku panduannya insya Allah akan mumdahkan kita untuk memahami materi, sebab adakalanya pembahasan di buku lain lebih mudah dicerna dan saling melengkapi.

5) Pahami dahulu baru hafalkan

6) Banyak-banyak praktek

Praktek ini sangat menentukan sekali sebab kita akan dipaksa untuk mengulang pelajaran-pelajaran yang telah dipelajari walaupun praktek ini memerlukan kesabaran, keuletan dan ketekunan tinggi. Sebab bisa jadi untuk membaca 1 baris saja memerlukan waktu 1 jam apalagi jika kosa katanya harus cari satu persatu dalam kamus.

Praktek ini ada tiga cara:

  • Praktek sendiri tanpa bimbingan
  • Praktek dengan pendampingan orang yang lebih ahli
  • Ikut kajian kitab

7) Kesadaran bukan semangat

Belajar atau bekerja hanya berlandaskan semangat belaka akan luntur tatkala kesemangatan luluh. Jadi belajar dengan kesadaran, kesadaran akan pentingnya serta hukum wajibnya memepelajari bahasa Arab.

8.) Ajarkan pada orang lain

Dengan mengajarkan kepada orang lain, ilmu kita akan bertambah justru seringkali kita paham akan suatu bab tatkala hendak mengajarkan pada orang lain.

9) Berdoa sungguh-sungguh

Fa izda ‘azamta fatawakal ‘alallah…

Source: http://alghaits.wordpress.com/2008/03/05/tips-tips-cepat-baca-kitab-gundul/

Pengantar Metode dan Teknik Menerjemah Buku

Hidup itu terbatas. Kita mendiami satu tubuh, satu pikiran, dan melihat dunia dengan sepasang mata. Melalui menulis dan membacalah dunia kita menjadi lebih terbuka. Kita menjadi lebih terbuka, — dan dengan demikian menjadi tidak terbatas – dikarenakan kita dapat menggunakan “mata” (pikiran) orang lain yang tersebar di mana-mana.” (Joan Lingard)

Kegiatan terjemah sudah berumur cukup tua, barangkali setua manusia mengenal lambang-lambang bahasa lisan. Tidak demikian halnya dengan kegiatan terjemah profesional. Ia mungkin baru belakangan dikenal dan populer, yakni ketika bahasa (lisan dan tulisan) menjadi denominator utama bagi eksistensi kebudayaan dan peradaban besar di dunia, termasuk Indonesia.

Di Mesir, selain oleh komunitas mahasiswa manca negara, kegiatan terjemah juga diramaikan oleh masico (Mahasiswa Cairo). Walaupun usianya sudah cukup lama, kegiatan terjemah di masisir terasa lebih semarak pada beberapa tahun terakhir. Obsesi dan motivasinya tentu sangat beragam. Saya tidak bisa menyebutnya secara urut dan pasti. Yang saya ketahui adalah bahwa setiap tahun, selalu saja muncul penerjemah-penerjemah baru. Tidak hanya yang terikat kontrak kerja secara resmi dengan penerbit-penerbit tanah air, bahkan ada yang tampil menjadi penerjemah-penerjemah lepas di lembaga pendidikan ataupun lembaga-lembaga swasta lainnya.

Setidaknya ada tiga motivasi yang membuat kegiatan terjemah mulai bergairah di tengah masisir.

Yang pertama, tumbuhnya kesadaran Masisir sebagai insan akademis untuk menyumbangkan hasil karya mereka demi perkembangan keilmuan dan gairah intelektual di tanah air.

Yang kedua, meningkatnya permintaan dari penerbit-penerbit di tanah air untuk Mahasiswa Timur Tengah (secara khusus, Mesir) untuk menerjemah buku. Hal ini tiada lain disebabkan karena semakin tingginya minat baca dan kebutuhan keilmuan di tanah air. Buku-buku terjemah merupakan solusi konkret untuk menutupi kebutuhan baca masyarakat Indonesia, terutama di tengah kecilnya produktifitas karya para ulama dan cendekiawan Indonesia.

Yang ketiga, secara materi, hasil dari menerjemah ini dapat membantu para mahasiswa untuk kesejahteraan hidup. Sehingga merangsang mereka untuk tetap melakukan aktivitas terjemah.

Namun, bagaimana mengatasi beberapa permasalahan seputar terjemahan, terutama penerjemah pemula? Mengapa gairah menerjemah yang mengebu-gebu acapkali menurun dan kandas di tengah jalan ketika tersandung dengan problematika terjemah di lapangan yang ternyata sangat komplek dan unik ?

Untuk menjalankan aktivitas terjemah dan mengentaskan beberapa problematikanya, terutama bagi mereka yang baru mulai menapaki dunia terjemah (Ahlan wa sahlan ma’ana ), saya memberikan tulisan ringkas ini sebagai bahan untuk berbagi cerita dan pengalaman. Semoga bisa ‘menjawab’ beberapa dilema dan permasalahan yang dihadapi. Jika kurang memuaskan dan tidak sesuai dengan harapan, saya mohon maaf. Namanya juga usaha .

Langkah Awal Menerjemah

A.Melatih, Mengasah Keterampilan Bahasa dan Terjemah

Kegiatan terjemah pada dasarnya sama dengan aktivitas menulis. Ia pada hakikatnya adalah keterampilan atau kemahiran. Kita hanya butuh waktu dan kesabaran untuk mengasah ketajamannya. Sederhananya, kegiatan terjemah adalah kebiasaan (Habit), sama seperti kita sedang belajar berenang atau bersepeda. Artinya, walaupun dalam kemampuan terjemah terselip unsur bakat, akan tetapi ia tidak bisa banyak membantu jika alat-alat untuk menerjemah itu sendiri tidak dimiliki dan digunakan.

Alat-alat atau perangkat utama yang dimaksud adalah The language (bahasa). Faktor penguasaan bahasa (mahârah lughawiyyah), -baik itu bahasa asli penerjemah ataupun bahasa asing yang hendak diterjemahkan- adalah sarana vital untuk menghasilkan terjemahan yang diharapkan.

Penguasaan bahasa tidak hanya sekedar menguasai perangkat dasarnya saja, seperti tata bahasa atau gramatikal, tapi ternyata kita juga harus mampu menjadikan bahasa asing tersebut sebagai bagian dari bahasa kita. Artinya, dalam dunia terjemah, unsur perasaan (Dzauq) juga memiliki peran besar untuk menghasilkan terjemah yang baik dan berkualitas. Hal ini harus kita ketahui, agar kita tidak harus terpaku dan menilik kaidah-kaidah bahasa yang berlaku.

Adapun cara untuk melatih dan menumbuhkan kebiasaan tersebut, dapat dilakukan dengan mengoptimalkan interaksi kita dengan bahasa tersebut. Bisa dengan membaca buku-buku asing tersebut, hadir dan mendengarkan bahasa asing tersebut, terutama native speakers-nya. Semakin sering kita membaca dan berinteraksi dengan dengan bahasa tersebut, maka akan memperkaya intuisi rasa dan kebahasaan kita terhadap bahasa tersebut. Disamping kita juga dituntut untuk banyak membaca bahasa Indonesia. Hal ini sangat dibutuhkan untuk menghaluskan dan mencairkan bahasa terjemahan, agar selalu renyah dan mudah dipahami pembaca.

Perlu diingat, Bahasa Indonesia adalah bahasa dinamis yang selalu tumbuh dan berkembang dari waktu kewaktu, terlebih di era modern dan keterbukaan seperti sekarang. Hampir setiap hari, selalu saja ada istilah atau ungkapan-ungkapan asing yang masuk dan menjadi bagian dari bahasa Indonesia. Maka akan sulit menjadi padanan kata yang cocok dan klop dengan bahasa Indonesia, jika kita tidak terbiasa membaca dan ‘mengikuti’ perubahan-perubahan tersebut.

Untuk langkah pertama, saya kira cukup sampai disini. Jangan lupa,

Asah dan latihlah keterampilan Bahasa dan Terjemah anda !

Langkah selanjutnya ..

B. ‘Selektif’ Memilih Buku

Selektif memilih dan memilah buku. Pilihlah buku yang sekiranya cocok dan sesuai dengan kemampuan serta bidang anda. Jangan menerjemah buku-buku ‘berat’ yang bukan bidang (spesialisasi) anda, atau buku-buku yang anda tidak memiliki latar belakangan pengetahuan tentang hal itu. Karena, penyebab utama yang sering membuat penerjemah ‘kalah’ di tengah jalan adalah kurang selektif memilih buku yang sesuai dengan kemampuannya. Terlebih para penerjemah pemula. Terkadang, karena saking ‘bersemangat’ nya untuk menghasilkan karya, ia tidak jeli memilih buku untuk diterjemah. Baru memulai terjemah, sudah memilih buku sehingga ketika ia menemukan kesulitan dan problem, ia kebigungan mencari jalan keluar. Akhirnya, terjemah tidak selesai, waktu terbuang percuma.

Kemudian, kita juga perlu memperhatikan jenis dan ketebalan buku. Upayakan naskah yang hendak diterjemahkan adalah buku dengan segmentasi yang kita gemari serta tidak terlalu tebal. Coba pilih buku-buku ringan dan populer yang anda gemari serta dengan ketebalan ‘sedang’ (antara 40-100). Biasanya buku-buku tentang remaja, sirah (sejarah), biografi serta buku-buku tentang fadhilah a’amal (keutamaan ibadah) rata-rata memiliki struktur bahasa dan kalimat yang sederhada serta mudah dipahami penerjemah. Hal ini akan membuat kita menikmati kegiatan terjemah, bahkan merangsang kita untuk menambah produktivitas terjemah.

Ingat, poin kedua, ‘Selektif’ Memilih Buku!

Selanjutnya, bagaimana memperoleh hasil terjemahan yang baik?

Sebagai tambahan dari penjelasan sebelumnya, berikut beberapa hal penting yang sangat membantu penerjemah dalam meningkatkan kualitas dan hasil terjemahnya. Yaitu:

1. Mengenali karakter kedua bahasa.

Diantara karakteristik bahasa Arab adalah memberikan perhatian terhadap jumlah fi’liyah (predikat didahulukan dari subyek) dan jumlah ismiyyah (mendahulukan subyek dari predikat). Sementara karakteristik bahasa Indonesia, selalu mendahulukan subyek daripada predikat.

2. Menambah Wawasan

Berwawasan luas. Ya, seorang penerjemah dituntut untuk memiliki wawasan luas, terutama terhadap tema bahasan yang sedang ia terjemahkan. Dengan demikian, akan mempermudah dalam proses penerjemahan, khususnya ketika mendapatkan beberapa nama atau terminologi yang berkaitan dengan spesialisasi ilmu tertentu. Contoh sederhananya adalah penulisan nama orang di dalam bahasa Arab. Dalam buku-buku berbahasa Arab, jarang sekali kita mendapatkan penulisan nama orang asing, misalnya, Ban Ki Mon, Ehud Olmert, Susilo Bambang Yudoyono, dll, yang mengikutsertakan nama aslinya dengan tulisan latin. Sebagian kita mungkin menganggap sepele hal-hal seperti ini, namun di ‘lapangan’ terjemah kita akan menemukan banyak hal ini. Maka, jawabannya adalah, Penerjemah harus berwawasan. Terlebih, jika naskah terjemahan tersebut beraroma pemikiran dan politik.

Contoh, kalimat Istifta, Hudnah, Abqoriyyat, Isytibakat dll.

3. Kemampuan menggunakan sumber-sumber rujukan, baik yang berbentuk kamus umum biasa, kamus elektronik, maupun kamus peristilahan serta  nara sumber bidang yang diterjemahkan. Seorang penerjemah harus memiliki kamus dari dua bahasa sekaligus. Akan lebih baik jika ia memiliki pelbagai macam kamus, terutama berkaitan dengan kamus istilah terhadap spesialisasi suatu ilmu. Dan yang terpenting adalah, jangan ‘malas’ buka kamus, apalagi penerjemah pemula. Upayakan anda mendapatkan tiga kosa kata baru setiap hari. Kalau perlu 10 kosa kata perhari! Semakin banyak inventaris kosa kata yang kita miliki, maka akan semakin lancar dan luwes kita menerjemah.

Jadi ingat! Jangan Malas buka kamus!!

4. Menggunakan Metode Maknawi

Selain metode penerjemahan harfi, kata perkata (literal), atau memindahkan bahasa dari teks ke teks, adapula metode penerjemahan maknawi (adaftif). Saya tidak ingin mengatakannya sebagai terjemahan ‘bebas’ yang lebih berkonotasi negatif. Model terjemah seperti ini lebih menekankan pada tekhnik ‘Pembahasaan kembali’, yaitu dengan menggunakan pola dan struktur bahasa terjemah yang lebih renyah dan komunikatif. Metode terjemah seperti memiliki, memiliki implikasi positif dan negatif. Positifnya, sebuah terjemahan akan menjadi lebih sederhana dan lebih mengenai sasaran dibandingkan hanya menitikberatkan kepada terjemah harfiyah, yang seringkali kurang enak dibaca. Negatifnya, terjemah maknawi yang terlalu ‘liar’ bisa menghilangkan gaya bahasa dan karakteristik (uslub atau ta’bir) penulis. Maka, penerjemah perlu memahami kedua hal tersebut. Ia dituntut mampu menerjemah dengan struktur bahasa yang sederhana serta dipahami, dengan tetap berusaha mempertahankan gaya bahasa penulis.

Jadi, terjemah yang baik adalah:

Terjemah yang dinamis, tidak kaku serta mudah dipahami!

5. Optimalkan Editing !

Editing adalah proses terakhir perbaikan naskah terjemah. Proses ini sangat menentukan hasil dan kualitas sebuah terjemah. Baik tidaknya sebuah terjemah sangat tergantung dengan hasil editing naskah, baik dari segi struktur bahasa, gramatikal dan validitas isi terjemahan. Jangan tergesa-gesa menyelesaikan editing atau perbaikan naskah. Cermati beberapa kali setiap halaman terjemahan anda. Hindari mengedit tulisan pada saat anda lelah atau mengantuk. Ini dapat menyebabkan kualitas editan anda kurang maksimal. Upayakan kondisi tubuh benar-benar fit dan bersemangat ketika mengedit, agar dapat merangsang seluruh potensi dan kemampuan kita ketika mengedit.

Jika naskahnya akan diterbitkan di Indonesia, biasanya penerbit juga menyediakan editor khusus untuk setiap naskah yang masuk. Namun hendaknya kita tidak menyandarkan seluruh proses editing ke pihak penerbit. Selain hal ini terkait dengan citra kita sebagai penerjemah –karena kita akan mendapat ‘catatan’ dari penerbit, jika hasil terjemah buruk, apalagi sampai tidak layak terbit- ini juga terkait dengan keterbatasan editor tersebut sebagai manusia biasa. Makanya, upayakan anda bisa mandiri mengedit naskah anda secara baik dan optimal.

Ingat! Kualitas terjemah anda,

tergantung secermat apa editing anda!

Penutup

Saya meyakini benar, bahwa tulisan ini sangat jauh dari kesempurnaan dan kecukupan. Apalagi jika anda hanya mengandalkan tulisan pengantar ini untuk belajar menerjemah, serta tidak tergerak untuk terus belajar dan mencoba .

Terakhir saran saya, terutama buat rekan-rekan yang benar-benar ingin menggeluti dunia terjemah secara serius, teruslah belajar dan mencoba. Kita bisa, kalau kita yakin bisa. Karena acapkali perbedaan terbesar antara kita dengan para penerjemah sukses, hanya terletak pada keyakinan bahwa mereka bisa. Selamat mencoba!

Ardiansyah Ashri Husein

* Makalah ini disampaikan dalam ‘SMS’ (Sekolah Menulis SINAI) yang diselenggarakan oleh Studi Informasi Alam Islami (SINAI) Mesir, Rabu, tanggal 9 Sya’ban 1428 H/22 Agustus 2007 M. Beberapa bahan tulisan dan item dalam makalah ini pernah saya sampaikan dalam Pelatihan Terjemah (Terjemah Aplikatif, Surat Kabar dan Buku) yang diselenggarakan oleh PADU (Persatuan Alumni Darul Ulum) Mesir, Kamis, 25 Shafar 1428 H/15 Maret 2007 M, kemudian dalam Pelatihan Jurnalistik yang diselenggarakan oleh KMA (Keluarga Mahasiswa Aceh, Ahad, tanggal 6 Rabi’ul Awwal 1428 H/25 Maret 2007 M.

** Jurnalis dan Penerjemah. Sekarang menjabat Koordinator Kajian Dunia Islam dan Studi Pemikiran Islam Kontemporer SINAI (Studi Informasi Alam Islami). Karya-karyanya yang sudah diterbitkan; 1. Dunia Islam Menghadapi Konspirasi Global, Membongkar Spionase Amerika Melumpuhkan Kekuatan Perlawanan; 2. Saddam Husein, Dari Istana Ke Tiang Gantungan. Buku-buku yang sudah diterjemah:

1. Al Ka’bah Markâzul ‘âlam; Ka’bah Pusat Dunia;

2. Al Jailu l-Ma’ûd bi an Nashr wa tamkîn (Tipikal Generasi Pemenang) Karya Dr. Majdi al Hilaly;

3. Buyûtun bila Duyûn (Rumah Bahagia Tanpa Hutang) karya Dr. Akram Ridha;

4. Musykilât As Syabâb (Romantika Remaja), karya Ahmad Hanafi;

5. Babun fi Tafsir, Silsilah min Turâts Imam Hasan Al Banna, karya Dr. Jum’ah Amin;

6. Fiqh Sunnah karya Sayyid Sabiq;

7. Ma’âlim Masyrû al Hadhâry Fi Fikri al Imâm Al Syahîd Hasan Al Banna; fi Dzikrâ Miawiyah Mîlâd al Imâm Al Syahîd Hasan Al Banna (Konsep dan Cita-cita Peradaban Imam Syahid Hasan Al Banna; Memoriam 100 Tahun Kelahiran Hasan Al Banna), Karya DR. Muhammad Imarah.

8. Manhaj al Ishlâh wa al Taghyîr ‘Inda Jamâ’atil Ikhwân al Muslimîn (Konsep Reformasi Dalam Persfektif Ikhwanul Muslimin, Studi Pembelajaran Terhadap Risalah Pergerakan Imam Syahid Hasan Al Banna), karya Dr. Muhammad Abdurrahman, Pengantar oleh Ir. Muhammad Khairat Syatir.

http://abukhonsa.multiply.com/journal/item/39

قراءة الكتب لماذا؟ وكيف؟

 قراءة الكتب لماذا ؟ :
ـ لا شك أن قراءة الكتب تعود على المتعلم بفائدة عظيمة .
وقد دل على ذلك دلائل كثيرات ،منها مايعود إلى الشرع ، ومنها ما يعود إلى النظر.

 قراءة الكتب كيف؟.

 هناك أمور ثلاثة :
1- أصول موصولة .
2- متممات مكملة .
3- وصايا موجهة .

أولاً : أصول موصلة
قراءة أي كتاب يقوم على ركائز ثلاث لابد منها :
الركيزة الأولى : أن يكون القارئ على معرفة بلغة الكتاب .
الركيزة الثانية : أن يحدد القارئ هدفه من قراءة الكتاب .
والأهداف التي يتوخاها الإنسان عند قراءته لكتاب ما على أنواع غير محصورة فمنها : قراءة تسلية ، قراءة فهم وتدبر لمعرفة مقصود الكتاب …
الركيزة الثالثة : المعرفة بالطريقة التي تتناسب مع الهدف.
وتختلف الطرائق باختلاف الأهداف ، فمن أراد أن يختصر كتاباً ـ مثلاً ـ فله طريقة معينة ، وهكذا على حسب اختلاف الأهداف .

ثانياً : متممات مكملة
هي محصلة ركائز ثلاث :
الركيزة الأولى : التدرج في القراءة وخطواتها .
فلا بد في البداءة بالقراءة في الكتب الواضحة قبل الغامضة المشكلة .
وها هنا أمران مهمان عند ذكر التدرج :
ـ الأول : أهمية حفظ أصول العلم ، فإن به يحصل ضبط المسائل والفصول.
ـ الثاني : أنه من الآفات أن يكون الإنسان صاحب تناتيف من العلوم ، فينظر في علوم كثيرة ، ولا يبلغ الإمامة في شيء منها.

الركيزة الثانية : القراءة الصحية .
يذكرها أهل الصحة والتطبب ، ومرجعها إلى مراعاة ثلاثة أشياء:
أولها : هيئة القراءة : وينبغي أن يجتمع فيها شرطان :
(1) أن تكون مريحة للعين الباصرة . (2) أن تكون مريحة البدن .
ثانيها: مراعاة الوقت : بأن يكون زمن القراءة فيه أريحية نفس وراحة تامة .
ثالثها: المكان : بأن يكون خالياً من الضجيج والأصوات المزعجة ، أو الصور التي تأخذ النفس وتأسرها .

الركيزة الثالثة : أن يتعرف المرء على جهات الخلل في أي كتاب يقرؤه .
فإن هناك جهات ثمان ، لا يمكن أن يأتي الخلل إلى المكتوب إلا عن طريق واحد منها ، حصرها وعدها عداً الإمام الماوردي – يرحمه الله – كما في ” أدب الدنيا والدين ” ،وخلاصتها:
1- إسقاط ألفاظ من الكلام .
2- زيادة ألفاظ أثناء الكلام يُشكل بها معرفة الصحيح غير الزائد من معرفة السقيم الزائد فيصير الكل مشكلاً .
3- إسقاط حروف من أثناء الكلمة الواحدة والكلمة نوعان :
– كلمة إذا سقط منها حرف بان عند تلاوتها لترددها أو شهرتها .
– كلمة أخرى إذا سقط منها حرف انقلبت إلى كلمة أخرى تتلى على معنى آخر .
4- زيادة حروف في أثناء الكلمة .
5- وصل الحروف الموصولة ، وفصل الحروف الموصولة .
6- تغيير الحروف عن أشكالها ، وإبدالها بأغيارها .
7- ضعف الخط عن تقويم الحروف على أشكالها الصحيحة ، حتى تصير العين الموصولة كالفاء ـ مثلاً ـ .
8- إغفال النقط والأشكال التي تتميز به الحروف المشتبهة ، وذلك أن الأوائل لم يكونوا ذوي عناية بتنقيط ما كان معجماً من الحروف .

ثالثاً : وصايا موجهة
الوصية الأولى : لابد لطالب العلم أن يكوّن مكتبة في منزله ومقر وجوده ؛لأنها آلة التحصيل.

الوصية الثانية : ألا يقدم على شراء كتاب إلى بعد الاختيار ، بأن يكون معتمداً عند أهل فنه .
والاختيار يختلف باختلاف الناس ، فمنهم العالم القادر على تقويم الكتب ، ومنهم من ليس كذلك ، فهؤلاء يأخذون مبدأ الاستشارة في شراء الكتب .
والاستشارة لها شرط وهو أن توقف المستشار على مبتغاك مع كونك تختار المستشار ، ولها أدب وهو أن تتأدب مع من تستشيره ، فلا تخالفه بعد الاستشارة لهوى نفس لا شيء آخر .
ومن الكتب التي تعين في معرفة أفضل كتب الفن ، ما يسمى
بـ ( الكتب الوصفية ) وهي التي تعنى بتوصيف كتب فنّ معين ، تستقرئ قديمها وحديثها ، ثم تقومه في ميزان النقل والتقويم الحق ، فمثلاً في النحو تجد ـ مثلاً ـ كتاب ” نشأة النحو ” لطنطاوي .

الوصية الثالثة : ينبغي عند شراء الكتب أن تراعي أمور ثلاثة :
1- أن يعلم أن تكوين مكتبة لطالب علم لا تأتي في عشية وضحاها في حال جملة الناس ، وهناك صنف من الناس قد كساه الله بالثراء فله أن يفعل مكتبة في عشية وضحاها .
2- إذا أراد أن يشتري كتاباً عاجلاً فليقدم نوعين من الكتب :
– الكتب الأصلية في فنها .
– ما يحتاجه من كتب في دراسة أو حلقة علم أو نحو ذلك .
3- عند شراء المرء الكتاب لابد أن تراعى دور النشر التي ثمنها زهيد حتى يضع بقية النقود في كتب أخرى ، وأن يتفقد الكتاب الذي اشتراه وخلوه من العيوب الطباعية ، ثم يتأكد من هو الكتاب المطلوب لا غيره.

الوصية الرابعة : تتعلق بإعارة الكتب .
فينبغي ألا يكون الإنسان بخيل النفس ، فيحبس الكتب عمّن يستعيرها منه ، وهو يريد أن يأخذها لمعرفة وهو مستحق لذلك العطاء وهو واثق به ، وهو أدب رفيع قلّ من تخلّق به .
إلا أن هناك شروطاً ثلاثة عند الإعارة :
1- أن يكون المستعير مستفيداً من الكتاب الذي طلبه ، ولا يكون متفكهاً بالطلب .
2- أن تكون على ثقة من إرجاع الكتاب إليك من قبل المستعير منك .
3- أن تُعَلّم كتابك بعلامة من العلامات حتى لا يذهب عنك ، كإثبات ملكيتك له ، أو وضع ختم لك ونحو ذلك .
وللاستعارة آداب حاصلها أربعة:
1. أن تصون الكتاب إن استعرته من غيرك .
2. الشكر لمن أعارك كتاباً .
3. ألا يطيل المرء بقاء كتاب عنه وقتاً طويلاً .
4. ألا يتصرف بالكتاب الذي استعاره بعد استئذان صاحبه .

آخر الوصايا : تتعلق بآداب متفرقات مع الكتب :
أولاً : صون الكتاب وحفظه من المعايب والمثالب.
ثانياً : مراعاة المكان الذي يوضع فيه الكتاب ونظافته ونزاهته.
ثالثاً : تتعلق بترتيب الكتب وفهرستها عند تكوين خزانة كتبية في بيت أو نحوه ، فينبغي أن يرتبها المرء على حسب مقدار علومها .
رابعاً : كتابة الحواشي والتعليقات وفق آدابها المعتبرة، ومن ذلك :
– أن يكتب التصحيحات لخطأ مطبعي أو نحوه ، على هامش الكتاب على جانبه ويضع بعدها ( صح ) كما هو هدي المحدثين .
– إذا قرأ كتاباً ثم أراد أن يقف ويرجع إليه من وقت لآخر فيكتب عند المكان الذي وقف عنده ( بلغ ) كما هو هدي المحدثين .
– إذا أراد أن يكتب فائدة على كلام مرّ عليه ، أو جملة قرأها في كتاب ، فيكتبها بادئاً بجهتها اليمنى ، بادئاً من الحاشية ، ثم يعلي الكتابة نحو أعلى الصفحة حتى إذا أراد أن يكتب شيئاً بعد ذلك السطر وجد له متسعاً وهي من الطرائق المستحسنة التي يفعلها المحدثون وغيرهم .
– وأن تكون بخط واضح .

قواعد لفهم كتب العلماء

 لا شك أن تصحيح مسار الفهم ، وتصويب سبيل المعرفة أمر مهم جداً ، ولذا كان حسن الفهم من أعظم النعم .
وجميع مايراد تفهمه يحصل بطريقتين :
الأولى : بيان المتكلم عن مراده ومفهومه .
والثانية : تمكن السامع من تفهُّم الشيء .
إلا أن الفهم له آفته كما أن للكتب آفاتها ، فلا بد من قواعد تضبط ذلك ، وهي كالتالي:
القاعدة الأولى : البنية المعرفية للقارئ لكتابٍ علمي تأصيلي لها أثرها الواضح في حسن الفهم لمصطلحات وأبواب ومسائل الكتاب.
ذلك أن مطالعة كتب المصنفين ومدوني الدواوين نافع في بابه بشروط ، منها : فهم مقاصد ذلك العلم المطلوب ومعرفة اصطلاحات أهله ، وذلك يحصل أخذ العلم مشافهة عن العلماء أو مما هو راجع إلى ذلك ، والكتب وحدها لا تفيد الطالب منها شيئا دون فتح العلماء وهو مشاهد معتاد .

القاعدة الثانية : الرجوع إلى المعروف من حال المصنف ومذهبه وحاله عن وجود عبارات مشتبهة في كلامه.

القاعدة لثالثة : مراعاة أحوال المؤلف وأطواره ـ إن مر بأطوار ـ في منهجه الاعتقادي أو الفقهي أو نحو ذلك .

القاعدة الرابعة : مراعاة التراجعات العلمية . إذ إن الرجوع إلى الحق فضيلة ، وكان أسلافنا الأخيار يرجعون إلى الحق إذا بان لهم ، فعندما يصطحب الناظر في الكتب لهذه الحقيقة يعلم يقيناً أن المصنف لكتاب ، قد يرجع عن قول قرره في الكتاب نفسه أو في بعض نسخه المتأخرة أو في أي كتاب آخر ، ولذا فلا ينبغي التسرع في نقل قول عالم من كتاب إلا إذا علم أنه أقره ولم يتراجع عنه .

القاعدة الخامسة : حمل المُجمل من كلام المؤلف على المُفَسَّر في الكتاب نفسه أو في كتابٍ آخر له.

القاعدة السادسة : تفهم الكلام حسب الدلائل المعتبرة في فهم كلام المؤلفين.
إذ إن الدلائل نوعان:دلائل معنوية ،ودلائل لفظية ، والدلائل اللفظية ثلاث :دلالة موافقة ، ودلالة لزوم ، ودلالة تضمن .
وإنما يفهم من خلال دلالة المطابقة والتضمن ، أما دلالة اللزوم فلا يُعمل بها على إطلاق إلا في مجالين :
الأول : أن يلزمه صاحبه إذا ذكر له اللازم .
والثاني : أن يدل عليه ما جرى مجرى لفظه من تنبيه أو إيماء أو نحوهما من الدلالات اللفظية .

القاعدة السابعة : مراعاة موارد الكلام للناظر في الكتب ، فقد يكون مورد الكلام وعظاً أو محاجّة لخصم ، أومناظرة لمخالف أو نحو ذلك ، فإنه قد يتنزل الإنسان في المناظرات ما لا يتنزله في باب التقرير ، وهكذا .

فوائد تتعلق بمطالعة الكتب

الفائدة الأولى : أن تكون القراءة للكتاب بنية عدم الرجوع إليه مرة أخرى ، وفي ذلك يبادر إلى استنفار قواه العقلية .
الفائدة الثانية : مراعاة الزمن عند قراءة الكتب ، فإن العمر قصير والعلم كثير ، فينبغي على الإنسان أن يعوِّد نفسه على سرعة القراءة مع تفهم .
الفائدة الثالثة : تحديد الغاية من قراءة الكتاب من اختصارٍ أو تلخيصٍ أو جردٍ لاستخراج أشياء معينة ، وبحسب تحديد الغاية تكون الطريقة المناسبة للقراءة .
الفائدة الرابعة : الانتقاء والاختيار ، فإن الكتب كثيرة ، بل هي في كل فنّ كتب كثيرة .

خـاتـــمة

ورغم أهمية الكتب وعِظمِ نفعها ، فإن الاعتماد عليها وحدها دون شيخٍ غيرُ نافع ، ولذلك يقول الشافعي – يرحمه الله – : ( لا تأخذ العلم عن صحفي ، ولا القرآن عن مصحفي ) .
ويقول ابن خلدون – يرحمه الله – في :”مقدمته” بعد ذكره قواعد عظمى في أخذ العلوم : ( إلا أن التلقي بالمباشرة والأخذ عن العلماء ، هو الذي يورث تمام الملكات ).

http://www.saaid.net/Doat/asmari/m/1.htm

NOTE: Untuk membantu mahasiswa/i dalam mempelajari i’rab dan terjemahan bahasa Arab, berikut disediakan links ke situs terkait. Semoga bermanfaat.

PELAJARAN DASAR I’RAB

E – BOOK BELAJAR  I’RAB

UNDUH KITAB  الإعراب الميسر

One response to this post.

  1. Posted by anik kurniawati on Februari 2, 2011 at 2:36 am

    tolong kaish tahu tentang kaidah-kaidah masa’il fi’liyah
    syukron katsir

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: